Om Digdug bingung. Apa yang selanjutnya harus dikerjakan?. Setelah menempati rumah barunya di komplek dagdigdug, Om Digdug belum mengisi rumahnya agar tidak kosong mlompong. Sekarang ini masih blong, tak ada perabot rumah apalagi perhiasan. Yang ada hanya papan nama, Om Digdug dagdidug belajar ngeblog. Dalam batin tertawa, enak bener ya!. Sudah menempati rumah dengan atas nama penghuninya plus gratis pula. Tapi kebingungan mau diisi apa?
Sebetulnya Om Digdug bukan tidak mempunyai uang. Ternyata krisis keuangan yang mencubit Indonesia, tidak berimbas kepada Om Digdug. Bagaimana tidak, lha wong melihat seperti apa saham saja belum pernah, apalagi memiliki. Kembali ke isi rumah. Om Digdug masih bingung mau dicat warna apa tuh rumah?. Jangankan itu, kamar-kamar saja belum ada. Mana kamar tamu, kamar tidur,kamar kamar mandi apalagi kamar pembantu masih belum jelas. Belum lagi perabotannya mau diisi yang penuh ukir-ukiran atau minimalis?. Perlu lukisan atau patung, atau dibiarkan begitu saja tiap kamar juga masih bingung.
Om Digdug yang selalu dagdigdug semakin degdegan. Sebenarnya jadi gak sih mau menempati rumah barunya nih? begitu batinnya. Apa seperti rumahnya yang dahulu saja. RUmah dengan model yang tidak jelas. Sudah arsitektur rumah gaya apa juga tak jelas, isinya macam-macam, catnya colourfull, tamannya tidak pernah dirawat, kamar tamu dengan kamar tidur jadi satu. Walah, pokoknya tidak pantas disebut rumah. Seperti kapal pecah.
Om Digdug geleng-geleng kepala. Bukan pertanya tidak setuju, tetapi mumet. Padahal biasanya Om Digdug konsisten dengan semboyan hidupnya, jalani hidup seperti air mengalir dan berusaha untuk lebih baik. Meskpun tadi gurunya bilang itu visi yang tidak jelas. Walah, mbel gedes lah.
Om Digdug mencoba tarik nafas. Kemudian seperti orang pintar tapi tidak begitu cerdas diam sejenak berfikir. Apa rumah ini mau dicat seperti buku diary saja. Jadi isinya curahan hati begitu. Wah, ora mutu. Kuno. Begitu kata tetangganya. Pasarnya sudah jenuh. Fullbook. Apa karena mau pemilihan umum terus diisi berbau-bau politik saja. Atau percintaan, perselingkuhan, perceraian seperti yang lagi disandiwarakan oleh para selebritas. Walah! Sudah terlalu tua Om, begitu keponakannya protes. Tentang kesehatan, pendidikan, kemiliteran, korupsi, sosial budaya atau agama?. Rasanya Om Digdug ndak punya kompetensi.
Om Digdug makin tak bersemangat. Kok tak ada yang bisa dijual dari darinya. Memang tidak ada pilihan lain, Om Digdug harus menjalani hidup seperti air mengalir dan selau berusaha lebih baik.