Ini Blog Apa?

Om Digdug bingung. Mau ngeblog apa di dagdigdug ini. Maksudnya mau menulis apa gitu. Karena sampai saat ini masih bingung. Hm, apa blog ini untuk menampung aneka bingung yang dialami Om Digdug saja. Jadi ketika bingung, menulis di sini. Tapi apa tidak aneh masa ngeblog kalau hanya pas bingung saja.

Ah, masih bingung nih. Maklum namanya juga belajar ngeblog.

Dipublikasi di Aku | 2 Komentar

Blogdetik Lola!

Om Digdug mumet. Bukan karena hutangnya yang masih banyak. Atau karena tagihan telepon dan bayaran sekolah anaknya. Tetapi karena blogdetik. Dari 2 minggu lalu sampai saat ini, lambat sekali. Masa dari tadi berusaha membuka blogdetik tidak bisa. Sementara membuka dagdigdug gak bikin deg-degan. Ngacir saja. Lho emang kalau blogdetik tak bisa dibuka apa pengaruhnya?. Om Digdug kecewa karena tidak bisa menengok rumahnya yang berada dikomplek blogdetik.

Apa tidak ada perhatian dari pihak adminnya. Karena masalahnya bukan di jaringan internet atau komputernya Om Digdug. Terbukti ini bisa posting ke dagdigdug. Kapan kembali lancar ya blogdetik?

Dipublikasi di Aku | Tag , , | 3 Komentar

What’s next?

Om Digdug bingung. Apa yang selanjutnya harus dikerjakan?. Setelah menempati rumah barunya di komplek dagdigdug, Om Digdug belum mengisi rumahnya agar tidak kosong mlompong. Sekarang ini masih blong, tak ada perabot rumah apalagi perhiasan. Yang ada hanya papan nama, Om Digdug dagdidug belajar ngeblog. Dalam batin tertawa, enak bener ya!. Sudah menempati rumah dengan atas nama penghuninya plus gratis pula. Tapi kebingungan mau diisi apa?

Sebetulnya Om Digdug bukan tidak mempunyai uang. Ternyata krisis keuangan yang mencubit Indonesia, tidak berimbas kepada Om Digdug. Bagaimana tidak, lha wong melihat seperti apa saham saja belum pernah, apalagi memiliki. Kembali ke isi rumah. Om Digdug masih bingung mau dicat warna apa tuh rumah?. Jangankan itu, kamar-kamar saja belum ada. Mana kamar tamu, kamar tidur,kamar kamar mandi apalagi kamar pembantu masih belum jelas. Belum lagi perabotannya mau diisi yang penuh ukir-ukiran atau minimalis?. Perlu lukisan atau patung, atau dibiarkan begitu saja tiap kamar juga masih bingung.

Om Digdug yang selalu dagdigdug semakin degdegan. Sebenarnya jadi gak sih mau menempati rumah barunya nih? begitu batinnya. Apa seperti rumahnya yang dahulu saja. RUmah dengan model yang tidak jelas. Sudah arsitektur rumah gaya apa juga tak jelas, isinya macam-macam, catnya colourfull, tamannya tidak pernah dirawat, kamar tamu dengan kamar tidur jadi satu. Walah, pokoknya tidak pantas disebut rumah. Seperti kapal pecah.

Om Digdug geleng-geleng kepala. Bukan pertanya tidak setuju, tetapi mumet. Padahal biasanya Om Digdug konsisten dengan semboyan hidupnya, jalani hidup seperti air mengalir dan berusaha untuk lebih baik. Meskpun tadi gurunya bilang itu visi yang tidak jelas. Walah, mbel gedes lah.

Om Digdug mencoba tarik nafas. Kemudian seperti orang pintar tapi tidak begitu cerdas diam sejenak berfikir. Apa rumah ini mau dicat seperti buku diary saja. Jadi isinya curahan hati begitu. Wah, ora mutu. Kuno. Begitu kata tetangganya. Pasarnya sudah jenuh. Fullbook. Apa karena mau pemilihan umum terus diisi berbau-bau politik saja. Atau percintaan, perselingkuhan, perceraian seperti yang lagi disandiwarakan oleh para selebritas. Walah! Sudah terlalu tua Om, begitu keponakannya protes. Tentang kesehatan, pendidikan, kemiliteran, korupsi, sosial budaya atau agama?. Rasanya Om Digdug ndak punya kompetensi.
Om Digdug makin tak bersemangat. Kok tak ada yang bisa dijual dari darinya. Memang tidak ada pilihan lain, Om Digdug harus menjalani hidup seperti air mengalir dan selau berusaha lebih baik.

Dipublikasi di Aku | Tag , , | Tinggalkan Komentar

Digdug Ngeblog di Dagdigdug.com

Sebelumnya, Om Digdug minta maaf kepada dagdigdug.com. Disebabkan memakai nama digdug yang merupakan penggalan dari dagdigdug sebagai blogku. Ini memang sengaja. Tapi semoga tidak melanggar apapun yang memang bisa dilanggar. Dan semoga juga ini bukan pelanggaran. Om Digdug, memang merada digdug… digdug… ketika mau ngeblog di dagdigdug.com. Ragu-ragu. Maju Mundur.Pertama, karena sudah mempunya blog di Blogdetik.com yang sama-sama produksi dalam negeri. Karena aku cinta produksi dalam negeri. Hal itulah yang menyebabkan Om Digdug tidak segera mengkavling di dagdigdug. Takut tidak mampu mengisi rumahnya. Kalau kosong dan tidak mampu menjaga dan merawatnya, nanti malah menjadi rumah hantu. Serem kan? Meskipun Om Digdug tidak takut hantu. Lah wong Om Digdug tampangnya juga menakutkan!

Kedua, kesan pertama menemukan dagdigdug ini merasa tidak sreg. Namanya terasa tidak keren. Ndak komersiil. Dagdigdug. Weleh, bikin degdeg-an saja. Dagdigdug itu mengesankan keraguan. Kemudian menulis dagdigdug itu juga terkesan ribet. Om Digdug itu orang sangat awam di dunia persilatan blog, meskipun jadi tidak tahu mana jasa blog gratis yang bagus atau tidak. Yang penting kalau bisa, buatan Indonesia.

Ini adalah postinganku yang kedua, setelah lebih sebulan yang lalu aku posting tentang puasa. Lama banget memang. Aku mencoba untuk tetap tinggal nyaman di dagdigdug.com meski saat ini masih digdug…digdug…digdug. Apalagi melihat lingkungannya disini senyaman perumahan mewah dengan aneka fasiliatasnya dan konon disini banyak orang-orang pandai ngeblog. Begitulah kesanku, maaf jika ada yang tersinggung. Namanya juga uneg-uneg!

Terima kasih juga telah membaca!

Dipublikasi di Aku | Tag , , , | 1 Komentar